Tampilkan postingan dengan label Opinion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opinion. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juli 2020

Moderasi Agama ditengah paham-paham radikalisme dalam perspektif Mahasiswa BPI

Nama Saya Andis Dwi Rahmatulloh, saya tinggal di Kabupate Karawang, Jawa Barat. Saya lulusan SMAN 1 Rengasdengklok. Setelah lulus saya mendaftarkan diri ke PTN, saya mencoba semua jalur. Baik jalur undangan maupun ujian seleksi. Disuatu kesempatan saya mendengar ada info tentang SPAN-PTKIN yaitu jalur undangan di semua perguruan tinggi negerei islam di indiensia. Kemudian singkat cerita saya memilihi diantara tiga kolom pilihan yang salah satunya saya memilih UIN Walisongo semarang. Pada saat di hari H pengumuman tepat di ulang tahun ibu saya, saya memberikan kejutan bahwa saya di terima di Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI).

Sudah 4 Tahun saya menimba ilmu disana, begitu banyak sekali ilmu yang saya ambil. Baik dari pengalaman pribadi dalam bermasyarakat maupun akademik, yang salah satunya kampus mengajarkan cara beragama yang baik dan pentingnya moderasi agama. Banyak nilai-nilai yang bisa di terapkan dan bermanfaat untuk pribadi dan dapat di amalkan kepada orang lain. Contohnya menerapkan ilmu dalam beragama. Dalam beragama bukan seberapa banyaknya ilmu yang dimiliki tetapi berapa ilmu yang sudah diterapkan. Bagaimana cara menyikapi sebuah perbedaan kepercayaan, beda kulit, ras, budaya. Kemudian dikorelasikan dengan ilmu agama yang sudah dipahami, dan diamalkan kepada masyarakat khususnya orang terdekat. 

Semua agama sepakat bahwa berdamai , kasih sayang, empati, dan saling menghargai adalah sikap yang harus nampak dan terasa di tengah perbedaan keyakinan yang bisa dikata terlalu mencolok. Hadirnya konflik kekerasan di beberapa penjuru dunia tentu membuat masyarakat beragama menjadi geram, sedih dan dilanda rasa dilematis yang teramat mendalam.

Perlu diketahui bahwa faham kaum radikalis dakam memperjuangkan cita-cita tersebut selalu menggunakan cara-cara ektrem-militan dan tak manusiawi. Sehingga dengan cara ini mereka menggap jalan yang efektif sebagai bentuk perjuangan dan jihad bagi mereka. Faham radikalisme inilah yang tumbuh dan tertanam di benak dan pikiran mereka sebagai cara berfikir, bertindak dalam memperjuangkan cita-citanya.

Dalam suasana ketegangan itu pula, kesan Islam yang rahmatan lil 'alaminsering dipertanyakan oleh warga masyarakat luar yang sudah terbiasa hidup di dalam kehidupan yang multikultural dan multi etnik. Apalagi kalau cara-cara memperjuangkan tegaknya Islam dengan klaim jihad untuk menegakkan amar ma'ruf nahi munkar dengan cara-cara kekerasan.

Agama yang tidak dijalankan dengan adil akan membuat agama itu menjadi dagangan untuk mengelabui fakta yang ada. Oleh sebab itulah, ketika agama diangkat sebagai isu yang menyebabkan kekacauan akan serta-merta dibenarkan tanpa pengetahuan dan proses dialog terlebih dahulu. Agama hanya akan dikooptasi sebagai barang untuk membenarkan segala tindakan yang dilakukan, sehingga banyak kelompok yang memiliki kepentingan menjadikan agama sebagai pendorong untuk menimbulkan kekacauan demi tercapainya sebuah kepentingan.

Sebagai umat beragama, tugas kita adalah menyampaikan agama sebagai sebuah ajaran yang mencerahkan pikiran dan tindakan dalam konteks apapun. Agama harus mampu menghadirkan rasa adil agar setiap konflik yang muncul bisa menemukan penyelesaian. Agama harus dijadikan jalan untuk menemukan masalah kesejahteraan dan ketertindasan agar konflik kekerasan tidak terus muncul. Sekali lagi, fungsi agama adalah untuk mencerahkan kehidupan manusia. Bukan sebagai komiditas murah yang diperjualbelikan untuk dijadikan alat memuluskan kepentingan.


Share:

Rabu, 08 Juli 2020

Dampak Perkuliahan dalam Perkembangan Virus Corona di Indonesia Perspektif Mahasiswa

Virus corona (CoV) adalah keluarga besar virus yang yang dapat menginfeksi burung dan mamalia, termasuk manusia. Menurut World Health Organization (WHO) virus ini menyebabkan penyakit mulai dari flu ringan hingga infeksi pernapasan yang lebih parah seperti MERS-CoV DAN SARS-CoV.

Virus Corona bersifat zoonosis, artinya ia merupakan penyakit yang dapat ditularkan antara hewan dan manusia. Rabies, Malaria, merupakan contoh dari penyakit zoonosis yang ada. Begitu pula dengan MERS yang ditularkan dari unta ke manusia.

Selama 70 tahun terakhir, para ilmuwan telah menemukan bahwa virus corona dapat menginfeksi tikus, tikus, anjing, kucing, kalkun, kuda, babi, dan ternak. Terkadang, hewan-hewan ini dapat menularkan virus corona ke manusia.

Virus corona bertanggung jawab atas beberapa wabah di seluruh dunia, termasuk pandemi Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) 2002-2003 dan wabah Middle East Respiratory Syndrome (MERS) di Korea Selatan pada tahun 2015.

Baru-baru ini, virus corona baru muncul dan dikenal sebagai COVID-19 memicu wabah di Cina pada Desember 2019, dan merebak di berbagai negara sehingga WHO mendeklarasikannya sebagai pandemi global.

Nama Corona diambil dari Bahasa Latin yang berarti mahkota, sebab bentuk virus corona memiliki paku yang menonjol menyerupai mahkota dan korona matahari. Para ilmuan pertama kali mengisolasi virus corona pada tahun 1937 yang menyebabkan penyakit bronkitis menular pada unggas.

Kemudian pada tahun 1965, dua orang peneliti Tyrrell dan Bynoe menemukan bukti virus corona pada manusia yang sedang flu biasa, melalui kultur organ trakea embrionik yang diperoleh dari saluran pernapasan orang flu tersebut.

Pada akhir 1960-an, Tyrrell memimpin sekelompok ahli virologi yang meneliti strain virus pada manusia dan hewan. Di antaranya termasuk virus infeksi bronkitis, virus hepatitis tikus dan virus gastroenteritis babi yang dapat ditularkan, yang semuanya telah ditunjukkan secara morfologis sama seperti yang terlihat melalui mikroskop elektron. Kelompok virus baru yang bernama virus corona, kemudian secara resmi diterima sebagai genus virus baru.

Jenis Virus Corona

Virus Corona masuk dalam subfamili Coronavirinae dalam keluarga Coronaviridae. Berbagai jenis virus corona pada manusia bervariasi dari tingkat keparahan gejala hingga kecepatan menyebar.

Dokter saat ini mengenali tujuh jenis virus corona yang dapat menginfeksi manusia. Jenis yang paling umum yaitu:

1. 229E (alpha coronavirus)
2. NL63 (alpha coronavirus)
3. OC43 (beta coronavirus)
4. HKU1 (beta coronavirus)

Jenis lain yang sebenarnya cukup jarang malah menyebabkan komplikasi yang lebih parah yaitu MERS-CoV, yang menyebabkan Middle East Respiratory Syndrome (MERS), dan SARS-CoV, virus yang bertanggung jawab atas Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Pada akhir Desember 2019, jenis baru yang disebut SARS-CoV-2 mulai beredar, yang kemudian menyebabkan penyakit dan dikenal sebagai COVID-19.

Dampak corona bagi mahasiswa : 

Pertama Pembelajaran offline yg dirubah menjadi pembelajaran online agak menyulitkan mahasiswa karena beberapa kendala seperti susahnya sinyal didaerah, biaya untuk internet, dan terkadang beberapa dosen tidak mau tau apabila terjadi kendala saat pembelajaran berlangsung. Dari segi materi, materi yang disampaikan oleh dosen kurang begitu jelas dipahami  dan ada juga dosen yang hanya memberi tugas tanpa memberi penjelasan tentang materi tersebut.

Dalam segi pengetahuan lapangan sayang sekali saat pandemi ini semua kegiatan lapangan dilakukan secara online yang berarti mahasiswa tidak bisa terjun untuk praktik kepada masyarakat secara langsung. Dan kegiatan praktik lapangan yg dilakukan secara online ini kurang efektif.

Share:

Kamis, 18 Mei 2017

Kritik Al-Ghazali terhadap para filosof


Al-Ghazali mempelajari filsafat kelihatannya untuk menyelidiki apakah pendapat-pendapat yang di majukan filosof-filosof itulah yang merupakan kebenaran. Bagi al-Ghazali, argumen-argumen yang mereka majukan tidak kuat. Menurut keyakinannya, ada yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Akhirnya ia mengambil sikap menentang terhadap filsafat. Di waktu inilah ia mengarang bukunya yang bernama Maqasid al-Falasifah (pemikiran kaum filosof) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin tahun 1145 M, oleh Dominicus Gundassalimus di Toledo dengan judul Logica et Philosophia Algazelis Arabis. Dalam buku ini ia menjelaskan pemikiran-pemikiran filsafat, terutama menurut Ibn sina. Sebagaiman dijelaskan sendiri oleh al-Ghazali dalam pendahuluan, buku itu dikarang untuk kemudian mengkritik dan menghacurkan filsafat. Kritikan itu datang dalam bentuk buku yaitu Tahafut al-Falasifah (kekacauan pemikiran para filosof atau the incoherence of the philosopher).
                Sebagaimana halnya ilmu kalam, dalam filsafat al-Ghazali juga menjumpai argumen-argumen yang tidak kuat. Akhirnya, dalam tasawwuf ia memperoleh apa yang dicarinya. Setelah terasa merasa puas dengan ilmu kalam dan filsafat, ia meninggalkan kedudukannya yang tinggi di Madrasah Nizamiyah Baghdad di tahun 1095 M. Dan pergi ke Damascus untuk bertapa di salah satu menara Masjid Umawi yang ada di sana. Setelah bertahun-tahun mengembara sebagai sufi, ia kembali ke Tus pada tahun 1105 M. Dan meninggal di sana tahun 1111 M.
                Tasawwuflah yang dapat menghilangkan rasa syak yang lama mengganggu dirinya. Dalam Tasawwuf, ia memperoleh keyakinan yang diturunkan Tuhan ke dalam dirinya itulah yang membuat al-Ghazali memperoleh keyakinan kembali. Mengenai cahaya ini al-Ghazali mengatakan :
                “Cahaya itu adalah kunci dari kebanyakan pengetahuan. Siapa yang menyangka bahwa kasyf (pembukaan tabir) bergantung pada argumen-argumen. Hal semacam itu sebenarnya telah mempersempit rahmat Tuhan yang demikian luas....Cahaya yang dimaksud adalah cahaya yang disinarkan Tuhan ke dalam hati sanubari seseorang”.[1]
                Dengan demikian satu-satunya pengetahuan  yang menimbulkan keyakinan akan kebenaranhya bagi al-Ghazali adalah pengetahuan yang diperoleh secara langsung dari Tuhan. Sebagaimana di jelaskan di atas, al-Ghazali tidak percaya pada filsafat, bahwa memandang filosof-filosof sebagai ahl al-bida’, yaitu tersesat dalam beberapa pendapat mereka. Didalam Tahafut al-Falasifah,  al-Ghazali menyalahkan filosof-filosof dalam pendapat-pendapat berikut :
 Tuhan tidak mempunyai sifat.
Tuhan mempunyai subtansi basit  (sederhana; simple) dan tidak mempunyai mahiah (hakikat,  quiddity).
  Tuhan tidak mengetahui juz’iyat (perincian, particulars ).
 Tuhan tidak dapat diberi sifat al-jins (jenis; genus) dan al-fasl (differentia)
Planet-planet adalah binatang yang bergerak dengan kemauan.
 Jiwa planet-planet mengetahuin semua juz’iyat.
Hukum alam tidak dapat berubah.
Pembangkitan jasmani tidak ada.
Alam ini tidak bermula.
Alam ini kekal
Tiga dari kesepuluh pendapat di atas, menurut al-Ghazali, membawa kepada kefukuran, yaitu sebagai berikut :
Alam kekal dalam arti tidak bermula.
 Tuhan tidak mengetahui perincian dari segala yang terjadi di alam
Pembangkitan jasmani tidak ada

Pendapat bahwa alam kebal dalam arti tidak bermula tak dapt diterima dalam teologi Islam. Dalam teologi, Tuhan adalah pencipta. Yang dimaksud dengan pencipta sesuatu dari tiada (creatio ex nihilo).
Kaum awam dengan akalnya yang sederhana sekali tidak dapat menangkap hakikat-hakikat. Mereka mempunyai sifat lekas percaya dan menurut. Golongan ini harus dihadapi dengan sikap memberi nasehat dan petunjuk (al-mau’izah). Kaum pilihan yang daya akalnya kuat dan mendalam harus dihadapi dengan sikap menjelaskan hikmah-hikmah, sedang kamum ahli dekat dengan sikap mematahkan argumen-argumen (al-mujadalah).[2]
                Sebagai filosof-filosof dan ulama-ulama lain, al-Ghazali dalam hal ini membagi manusia kedalam dua golongan besar, awam dan khawas, yang daya tangkapnya tidak sama. Oleh karena itu, apa yang yang dapat diberikan kepada kaum awam. Dan sebaliknya, pengertian kaum awam dan kaum khawas tentang hal yang sama tidak selamanya sama, tetapi acapkali berbeda-beda, berbeda menurut daya berfikir masing-masing. Kaum awam membaca apa yang tersurat dan khawas, sebaliknya, membaca yang tersiarat.




[1] Al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah (Cairo: Dar al-Ma’arif 1966), h, 96-97.
[2] Hal ini sesuai dengan Q.S. al-Nahl (16): 125

Share:

Kamis, 02 Februari 2017

Dakwah Kota Pangkal Perjuangan



Dakwah berasal dari bahasa Arab: دعوة‎, da'wah; "ajakan" sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Dakwah berarti penyiaran, propaganda;  penyiaran agama dan pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama. Dalam kegiatan dakwah, subjeknya disebut da’i (orang yang menyampaikan pesan dakwah) kepada para mad’u selaku objeknya. Dalam hal ini Allah SWT berfirman melalui surat Ali Imran ayat 104 yang berbunyi bermakna: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang meyeru kepada kebajikan, mneyuruh (berbuat) dan makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Yusran (ud.), 2009;64). Secara formal kegiatan dakwah harus melibatkan da’i sebagai orang yang menyampaikan pesan dakwahnya. Dalam hal ini dakwah islamiah di arahkan kepada seluruh manusia, baik didasarkan pada tingkat umur, strata, hubungan, lingkungan, maupun orientasi pandangan (Fathi,1970:21)

            Masyarakat dakwah merupakan komponen yang mengandung makna yang sangat luas dengan berbagai karakteristi yang berbeda. Karekteristik tersebut meliputi  ras, suku, bangsa, letak geografis, profesi jenis kelamin dan lain-lain. Letak geografis merupakan salah satu factor yang kuat dalam  membangun karakteristik masyarakat dakwah, karena biasanya dalam suatu daerah terdapat peraturan-peraturan mengikat seperti adat istiadat dan kebudayaan, yang hal itupun menjadi acuan mereka untuk menjalani aktifitas hidup.

Karakteristik masyarakat di suatu daerah memang dipengaruhi oleh adat dan kebudayaan di daerah tersebut. Seperti yang nampak di Desa Kutagandok. Desa Kutagandok merupakan daerah terjangkau  yang berada di areal yang di dominasi pesawahan.

Berdasarkan hasil wawancara pada hari Jumat 9 Desember 2016 – 11 Desember 2016. yang dianalisis secara langsung oleh pemakalah, Desa Kutagandok merupakan desa yang memiliki karakteristik yang cukup unik. Berikut data-data hasil analisis kami mengenai Desa Kutagandok. 

Letak geografis Desa Kutagandok merupakan desa yang terletak di kawasan Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang. Desa ini Terletak di 27 km dari kota Karawag dan area yang di dominasi oleh pesawahan. Daerah ini di kenal dengan kawasan pesawahan yang luas. Desa Kutagandok bisa di tempuh dan mudah di akses melalui jalur kendaraan darat.

Warga di Desa Kutagandok memiliki kepercayaan terhadapa beberapa hal yang akhirnya menjadi tradisi warga di desa tersebut. Seperti salah satunya Anak kecil di larang keluar ketika menjelang magrib

Hal ini dikarenakan salah satu makhluk ghaib yang fenomenal yang bernama “Kelong Wewe” yang sering disebut oleh warga sekitar yang sering menculik menculik anak dan disembunyikan di suatu tempat,  terdapat salah satu cerita  warga setempat pada saat itu kurang lebih pukul  5.10 Pm dan desa tersebut padam listrik yang sedang kebingungan mencari anaknya meggunakan sepeda tua berwarna coklat sampai azan magrib berkumandang, kemudian ia memutuskan untuk pulang melaksanakan sola Magrib, ketika ia membuka lemari tua besar ia menemukan anaknya dengan kondisi lesu dan panas tinggi. Dan hingga kini beberapa masyarakat ang mempercayai mitos tersebut, namun kepercayaan mitos tersebut mulai pudar karena era (modern) sudah berbeda.

Secara teoritis,pelaku dakwah adalah orang yang berkeinginan menyebarluaskan dan memperkuat syariat islam, mengerti tentang syariat dan hukum-hukum islam dan paham terhadap ilmu dakwah, umumnya pelaku dakwah disebut da’i.

Dewasa ini, seorang da’i tidak hanya berkecimpung dalam menjelaskan syariat-syariat islam dan segala hal mengenai peribadatan saja, tetapi membahas juga hal-hal yang berhubungan dengan masaalah sosial secara umum.

Berkaitan dengan Desa Kutagandok, pelaku dakwah adalah para tokoh masyarakat yang berguru kepada kyai-kyai pengasuh pondok pesantren dan para Sarjana. Saat ini, orang yang di anggap tokoh masyarakat oleh warga disana yaitu ustad Lukmanul hakim atau biasa di sebut Haji Didi, dan ustad Ismail Saleh (kang ismail). Beliau adalah guru-guru ngaji di Ponpes Hidayatul mubtadi’in. Dalam hal ini juga, ada lebih dari 20 santri yang setiap ba’da magrib mengemban ilmu di sana.

Masyarakat Desa Kutagandok cukup merespon baik terhadap kegiatan-kegiatan dakwah yang dilakukan da’i. Hal itu terbukti dengan keaktifan masyarakat dalam mengikuti kegiatan pengajian yang diadakan setiap hari Jum’at sampai Minggu. Walaupun di dominasi oleh kaum ibu-ibu

Masyarakat jarang mengerjakan sholat lima waktu secara berjamaah, walaupun tidak seluruhnya, fakta dilapangan satu dari sepuluh masyarakat lebih memilih solat di kediamannya masing-masing namun ketika waktu solat magrib masyarakat lebih memilih solat di mushola dan masjid sekitar.

Dalam hal pengajian harian, respon yang paling rendah adalah dari kalangan bapak-bapak, hal ini dikarenakan pekerjaan mereka yang banyak menyita waktu, seperti mengurus kebun, tambak dan sawah juga membuat furniture. Ini menjadi sasaran utama da’I untuk mengembalikan respon dari kalangan bapak-bapak karena laki-laki yang nantinya akan menjadi imam keluarga, ditakutkan akan menjadi pengaruh terhadap anggota keluarga lainnya.

Materi dakwah yang di lakukan di Desa Kutagandok cukup beragam. Namun, kegiatan dakwah yang saya lakukan dimulai dari hal-hal kecil. Diantaranya dari kalangan ibu-ibu yang disibukan oleh qasidahan yang di akhiri dengan kajian Al-Qur’an. Mengadakan pengajian untuk anak-anak dan remaja yang dilakukan pada saat magrib sampai isya’ dengan pengkajian Al-quran dan kitab-kitab, shalawatan Dan pengajiannya pun berupa pembacaan Surat Yasin dan pembacaan tahlil yang di tujukan kepada leluhur dan orang-orang yang sudah meninggal.. Pengajian yang untuk bapak-bapak dilakukan pada malam kamis, yaitu berupa pembacaan Surat Yasin dan membaca sholawat 1000 kali.

Istilah metode berasal dari bahasa Inggris, method, yang berarti systemic arrangement (penataan yang sistimatis); ordely procedure (prosedur yang rapih); mode handling intellectual problema (cara penanganan masalah secara cerdik) (Webster’s Tower Dictionary, 1957;179). Dengan demikian, kiranya bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan metode adlaha cara menyusun tatanan kerja yang rapih, apbila dihubungkan dengan kata dakwah, maka pengertiannya adalah cara melakukan kegiatan dakwah guna menghasilkan manusia yang islami.

Dakwah yang dilakukan da’i di desa Kutagandok dengan dakwah lisan dimakudkan sebagai dakwah yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata atau ucapan lisan dalam bahasa yang bisa di pahami oleh mad’uI-nya dengan mudah oleh masyarakat kutagandok  yang masih dalam bentuk ceramah dan khotbah di hari-hari besar islam walaupun tidang sering di selenggarakan karena faktor ekonomi yang masyarakat kutagandok di dominasi oleh kalangan bawah.

            Kegiatan dakwah yang diadakan dan diterapkan di wilayah Kutagandok cukup behasil. Diantaranya mitos yag dipercayai masyarakat sudah mulai hilang, para kaum bapa-bapa sedikit meningkat daya semangatnya untuk sholat berjamaah, gotong royong tolong menolong antar sesama sudah diterapkan dalam lingkungan desa Kutagandok, dan pengajian yang terus berjalan, Dengan berjalannya kegiatan dakwah dapat mengimbangi pengaruh globalisasi yang masuk.

            Teori medan dakwah adalah teori yang menjelaskan situasi teologis, kultural dan struktural mad’u saat pelaksanaan dakwah islam. Dakwah islam adalah sebuah ikhtiar Muslim dalam mewujudkan islam dalam kehidupan pribadi , keluarga, komunitas, dan masyarakat dalam semua segi kehidupan sampai terwujudnya masyarakat yang terbaik atau dapat disebut sebagai khairul ummah yaitu tata sosial yang mayoritas masyarakatnya beriman, sepakat menjalan dan menegakkan yang ma’ruf dan secara berjamaa’ah mencegah yang munkar.

Dalam hal mengaplikasikan aqidah Islam, walaupun mereka berada dalam lingkungan yang sangat rentan terjadinya kemusyrikan, masyarakat tidak melakukan praktik-praktik yang menyimpang seperti perdukunan, pesunggihan dan lain-lain.

Masyarakat yang awalnya mempercayai mitos-mitos yang telah dijelaskan diatas sebagai refleksi dari kekesalan para leluhur sehingga menimbulkan bencana, saat ini lebih mempercayai bahwa pantangan tersebut lebih kepada penghormatan semata.

            Kesimpulannya adalah sistem dakwah didesa Kutagandok, Kecamatan Kutawalua, Kabupaten Karawang masih stabil serta dari segi metode dakwah tidak ada perubahan signifikan, serta respon masyarakat terhadap dakwah cukup baik sehingga prilaku serta sikap masyarakat  secara bertahap menjadi lebih islami dan lebih terarah.

Dakwah berasal dari bahasa Arab: دعوة‎, da'wah; "ajakan" sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Dakwah berarti penyiaran, propaganda;  penyiaran agama dan pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama. Dalam kegiatan dakwah, subjeknya disebut da’i (orang yang menyampaikan pesan dakwah) kepada para mad’u selaku objeknya. Dalam hal ini Allah SWT berfirman melalui surat Ali Imran ayat 104 yang berbunyi bermakna: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang meyeru kepada kebajikan, mneyuruh (berbuat) dan makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Yusran (ud.), 2009;64). Secara formal kegiatan dakwah harus melibatkan da’i sebagai orang yang menyampaikan pesan dakwahnya. Dalam hal ini dakwah islamiah di arahkan kepada seluruh manusia, baik didasarkan pada tingkat umur, strata, hubungan, lingkungan, maupun orientasi pandangan (Fathi,1970:21)

            Masyarakat dakwah merupakan komponen yang mengandung makna yang sangat luas dengan berbagai karakteristi yang berbeda. Karekteristik tersebut meliputi  ras, suku, bangsa, letak geografis, profesi jenis kelamin dan lain-lain. Letak geografis merupakan salah satu factor yang kuat dalam  membangun karakteristik masyarakat dakwah, karena biasanya dalam suatu daerah terdapat peraturan-peraturan mengikat seperti adat istiadat dan kebudayaan, yang hal itupun menjadi acuan mereka untuk menjalani aktifitas hidup.

Karakteristik masyarakat di suatu daerah memang dipengaruhi oleh adat dan kebudayaan di daerah tersebut. Seperti yang nampak di Desa Kutagandok. Desa Kutagandok merupakan daerah terjangkau  yang berada di areal yang di dominasi pesawahan.

Berdasarkan hasil wawancara pada hari Jumat 9 Desember 2016 – 11 Desember 2016. yang dianalisis secara langsung oleh pemakalah, Desa Kutagandok merupakan desa yang memiliki karakteristik yang cukup unik. Berikut data-data hasil analisis kami mengenai Desa Kutagandok. 

Letak geografis Desa Kutagandok merupakan desa yang terletak di kawasan Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang. Desa ini Terletak di 27 km dari kota Karawag dan area yang di dominasi oleh pesawahan. Daerah ini di kenal dengan kawasan pesawahan yang luas. Desa Kutagandok bisa di tempuh dan mudah di akses melalui jalur kendaraan darat.

Warga di Desa Kutagandok memiliki kepercayaan terhadapa beberapa hal yang akhirnya menjadi tradisi warga di desa tersebut. Seperti salah satunya Anak kecil di larang keluar ketika menjelang magrib

Hal ini dikarenakan salah satu makhluk ghaib yang fenomenal yang bernama “Kelong Wewe” yang sering disebut oleh warga sekitar yang sering menculik menculik anak dan disembunyikan di suatu tempat,  terdapat salah satu cerita  warga setempat pada saat itu kurang lebih pukul  5.10 Pm dan desa tersebut padam listrik yang sedang kebingungan mencari anaknya meggunakan sepeda tua berwarna coklat sampai azan magrib berkumandang, kemudian ia memutuskan untuk pulang melaksanakan sola Magrib, ketika ia membuka lemari tua besar ia menemukan anaknya dengan kondisi lesu dan panas tinggi. Dan hingga kini beberapa masyarakat ang mempercayai mitos tersebut, namun kepercayaan mitos tersebut mulai pudar karena era (modern) sudah berbeda.

Secara teoritis,pelaku dakwah adalah orang yang berkeinginan menyebarluaskan dan memperkuat syariat islam, mengerti tentang syariat dan hukum-hukum islam dan paham terhadap ilmu dakwah, umumnya pelaku dakwah disebut da’i.

Dewasa ini, seorang da’i tidak hanya berkecimpung dalam menjelaskan syariat-syariat islam dan segala hal mengenai peribadatan saja, tetapi membahas juga hal-hal yang berhubungan dengan masaalah sosial secara umum.

Berkaitan dengan Desa Kutagandok, pelaku dakwah adalah para tokoh masyarakat yang berguru kepada kyai-kyai pengasuh pondok pesantren dan para Sarjana. Saat ini, orang yang di anggap tokoh masyarakat oleh warga disana yaitu ustad Lukmanul hakim atau biasa di sebut Haji Didi, dan ustad Ismail Saleh (kang ismail). Beliau adalah guru-guru ngaji di Ponpes Hidayatul mubtadi’in. Dalam hal ini juga, ada lebih dari 20 santri yang setiap ba’da magrib mengemban ilmu di sana.

Masyarakat Desa Kutagandok cukup merespon baik terhadap kegiatan-kegiatan dakwah yang dilakukan da’i. Hal itu terbukti dengan keaktifan masyarakat dalam mengikuti kegiatan pengajian yang diadakan setiap hari Jum’at sampai Minggu. Walaupun di dominasi oleh kaum ibu-ibu

Masyarakat jarang mengerjakan sholat lima waktu secara berjamaah, walaupun tidak seluruhnya, fakta dilapangan satu dari sepuluh masyarakat lebih memilih solat di kediamannya masing-masing namun ketika waktu solat magrib masyarakat lebih memilih solat di mushola dan masjid sekitar.

Dalam hal pengajian harian, respon yang paling rendah adalah dari kalangan bapak-bapak, hal ini dikarenakan pekerjaan mereka yang banyak menyita waktu, seperti mengurus kebun, tambak dan sawah juga membuat furniture. Ini menjadi sasaran utama da’I untuk mengembalikan respon dari kalangan bapak-bapak karena laki-laki yang nantinya akan menjadi imam keluarga, ditakutkan akan menjadi pengaruh terhadap anggota keluarga lainnya.

Materi dakwah yang di lakukan di Desa Kutagandok cukup beragam. Namun, kegiatan dakwah yang saya lakukan dimulai dari hal-hal kecil. Diantaranya dari kalangan ibu-ibu yang disibukan oleh qasidahan yang di akhiri dengan kajian Al-Qur’an. Mengadakan pengajian untuk anak-anak dan remaja yang dilakukan pada saat magrib sampai isya’ dengan pengkajian Al-quran dan kitab-kitab, shalawatan Dan pengajiannya pun berupa pembacaan Surat Yasin dan pembacaan tahlil yang di tujukan kepada leluhur dan orang-orang yang sudah meninggal.. Pengajian yang untuk bapak-bapak dilakukan pada malam kamis, yaitu berupa pembacaan Surat Yasin dan membaca sholawat 1000 kali.

Istilah metode berasal dari bahasa Inggris, method, yang berarti systemic arrangement (penataan yang sistimatis); ordely procedure (prosedur yang rapih); mode handling intellectual problema (cara penanganan masalah secara cerdik) (Webster’s Tower Dictionary, 1957;179). Dengan demikian, kiranya bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan metode adlaha cara menyusun tatanan kerja yang rapih, apbila dihubungkan dengan kata dakwah, maka pengertiannya adalah cara melakukan kegiatan dakwah guna menghasilkan manusia yang islami.

Dakwah yang dilakukan da’i di desa Kutagandok dengan dakwah lisan dimakudkan sebagai dakwah yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata atau ucapan lisan dalam bahasa yang bisa di pahami oleh mad’uI-nya dengan mudah oleh masyarakat kutagandok  yang masih dalam bentuk ceramah dan khotbah di hari-hari besar islam walaupun tidang sering di selenggarakan karena faktor ekonomi yang masyarakat kutagandok di dominasi oleh kalangan bawah.

            Kegiatan dakwah yang diadakan dan diterapkan di wilayah Kutagandok cukup behasil. Diantaranya mitos yag dipercayai masyarakat sudah mulai hilang, para kaum bapa-bapa sedikit meningkat daya semangatnya untuk sholat berjamaah, gotong royong tolong menolong antar sesama sudah diterapkan dalam lingkungan desa Kutagandok, dan pengajian yang terus berjalan, Dengan berjalannya kegiatan dakwah dapat mengimbangi pengaruh globalisasi yang masuk.

            Teori medan dakwah adalah teori yang menjelaskan situasi teologis, kultural dan struktural mad’u saat pelaksanaan dakwah islam. Dakwah islam adalah sebuah ikhtiar Muslim dalam mewujudkan islam dalam kehidupan pribadi , keluarga, komunitas, dan masyarakat dalam semua segi kehidupan sampai terwujudnya masyarakat yang terbaik atau dapat disebut sebagai khairul ummah yaitu tata sosial yang mayoritas masyarakatnya beriman, sepakat menjalan dan menegakkan yang ma’ruf dan secara berjamaa’ah mencegah yang munkar.

Dalam hal mengaplikasikan aqidah Islam, walaupun mereka berada dalam lingkungan yang sangat rentan terjadinya kemusyrikan, masyarakat tidak melakukan praktik-praktik yang menyimpang seperti perdukunan, pesunggihan dan lain-lain.

Masyarakat yang awalnya mempercayai mitos-mitos yang telah dijelaskan diatas sebagai refleksi dari kekesalan para leluhur sehingga menimbulkan bencana, saat ini lebih mempercayai bahwa pantangan tersebut lebih kepada penghormatan semata.

            Kesimpulannya adalah sistem dakwah didesa Kutagandok, Kecamatan Kutawalua, Kabupaten Karawang masih stabil serta dari segi metode dakwah tidak ada perubahan signifikan, serta respon masyarakat terhadap dakwah cukup baik sehingga prilaku serta sikap masyarakat  secara bertahap menjadi lebih islami dan lebih terarah.
Share:

Labels

Popular Posts